Sabtu, 25 Mei 2013

Enam Bulan. Tanpamu

Aku terbangun seperti biasa. Menatap handphone beberapa lama, lalu melirik ke arah jam. Menatap langit-langit kamar yang sama. Letak meja, lemari dan buku-buku yang juga masih sama. Tidak ada yang berbeda disini, aku masih bernafas, jantungku masih juga berdetak seperti biasa, denyut nadiku juga masih bekerja dengan normal dan baik. Memang, semua terlihat mengalir dan bergerak seperti biasa, tapi apakah yang terlihat oleh mata benar-benar sama oleh yang terlihat atau dirasakan oleh hati? kurasa tidak..

Mataku berkunang-kunang, sore ini memang sangat dingin. Aku menarik selimut (lagi) dan menenggelamkan kepalaku disana. Dan tetap saja tak kutemukan kehangatan, tetap merasa dingin, menggigil --aku sendirian. Dengan kenangan yang masih menempel diotakku, seakan membekukan kinerja hati. Sungguh, aku ingin tersadar dari bayang-bayang yang selalu ingin ku kejar. Sekali lagi, aku masih sendiri, bermain-main dengan masalalu yang tak pernah ingin ku ingat lagi.

Sudah tanggal 16. Seberapa pentingnya kah tanggal itu? Ya.. memang tidak begitu pengting bagi mereka yang tak mengalami hal spesial ditanggal 16. Kita masuk kebulan Mei. Bulan baru. Mimpi baru. Harapan baru. Cita-cita baru. Juga kadang, tak ada yang baru. oh aku hampir lupa, bulan Mei juga bulan ulang tahunmu. Umur baru untukmu. Ku harap kau lebih berpikir dewasa di umurmu 18tahun nanti, tepat pada tanggal 29 Mei. Aku hanya ingin kau tahu, tak semua hal yang baru dapat memberi kebahagian. Dan, tak semua yang disebut masalalu akan menghasilkan air mata. Aku begitu yakin dengan itu, sampai pada akhirnya aku tahu rasanya perpisahan. Aku tahu rasanya melepaskan diri yang dari hal yang sebenarnya tak pernah ingin aku tinggalkan. Aku semakin tahu, masa lalu setidaknya selalu jadi sebab. Kamu, yang dulu ku miliki tak lagi dapat ku genggam dengan jemari.

Kita berpisah, tanpa alasan yang jelas, tanpa diskusi dan interupsi. Iya, berpisah, begitu saja. Seakan-akan semua hanya masalah sepele, bisa begitu mudah disentil oleh sebuah hentakan kecil. Sangat mudah, sampai aku tak benar-benar mengerti, apakah kita memang telah benar-benar berpisah. Atau dulu, sebenarnya kita tak punya keterikatan apa-apa? Hanya saja, aku dan kamu selalu mendengungkan rasa yang sama. Segala yang semu yang menggoda aku dan kamu, lalu menyatukan kita, dalam rasa (yang katanya) cinta..

Aku mulai berani melewati banyak hal bersamamu. Kita habiskan waktu, dengan langkah yang sama dengan denyut yang tak berbeda, seirama, begitu indah. tanpa cacat. Sempurna. Dan, aku bahagia. Bahagia? Benarkah aku dan kamu pernah merasa bahagia? Lalu, mengapa kita memilih perpisahan sebagai jalan? Jika bahagia menjadi jawaban, mengapa aku masih terus bertanya-tanya? Pada Tuhan, pada manusia lainnya, dan pada hatiku sendiri. Kenapa kau harus ubah mimpi jadi api? Mengapa kau ubah pelangi jadi buih? Mengapa kau ciptakan luka?

Kegelisahanku makin meningkat, ketika aku memikirkanmu, ketika aku masih memikirkan pola makanmu, juga kesehatanmu. Aku bahkan masih mengkhawatirknmu, masih diam-diam mencari kabarmu, dan aku masih merasa sakit jika tahu sudah ada yang lain, yang mengisi kekosongan hatimu. Seharusnya aku tak harus merasa begitu, karena kau masa lalu, karena kita tak terikat apa-apa lagi. Benar, akulah yang bodoh yang tak memutuskan diri untuk segara berhenti. Aku masih berjalan..terus berjalan, dengan penutup mata yang tak ingin ku buka....

Ternyata hari berlalu sangat cepat. Sudah enambulan, dan sudah tak terhitung lagi berapa frasa kata yang selalu ku ucap jika sedang mendoakanmu. Salahku, yang terlalu perasa. Salahku, yang mengartikan segalanya dengan begitu berani. Lagi dan lagi aku salah, dan kamu memilih untuk pergi. Ini juga salahku, karena tak mengunci langkahmu ketika ingin menjauh, malam itu..

Setelah hari itu, hari-hari yang kulalui tetap sama. Aku masih mengerjakan rutinitasku. Dan, aku mulai berusaha mencari penggantimu. Namun, tak ada lagi yang sama, kali ini semua berbeda. Tak ada kamu yang dulu, tak ada kita yang dulu. Ya, kenangan berasal masa lalu, tapi tetap memiliki tempat tersendiri dihati yang bergerak ke masa depan.

Hidupku tak lagi sama, dan aku masih berjuang melupakan sosokmu yang tak lagi terengkuh dalam pelukan. Padahal, aku masih jalani hari yang sama, aku masih menjadi diriku, dan jiwaku masih lekat dengan tubuhku. Tapi, masih ada yang berbeda. Kesunyian ini bernama..tanpamu.



Selamat 6 bulan, Ilham Akbar
Aku kangen...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar