Jumat, 18 Januari 2013

Teruntuk Pria Berkacamata Diruang kelas di ujung sana

Tidak semua pertemuan akan membekas. kadang kala beberapa pertemuan hilang begitu saja, tak menimbulkan rasa apa-apa. Beberapa pertemuan lainnya juga ada yang tinggal dalam ingatan, bersemi lebih indah hinggal memunculkan banyak rasa. Aku sangat ingin tahu darimu, pertemuan kita seperti apa? apakah seperti pertemuan yang biasa dan tidak menimbulkan perasaan apa-apa atau mungkin pertemuan kita berhasil menimbulkan rasa dan mengganggu perasaan? aku ingin tahu, sangat ingin. tapi itu sangat mustahil untuk membangun percakapan denganmu. Karena kita terpisah, berbeda. Kelasku berada di tengah sedangkan kelasmu setia diujung sana. Dapatkah tatapan mata atau percakapan menyatukan kita?

Kemarilah, dekatkan telingamu, dengarlah ceritaku ini yang semua tentangmu. Aku menyimpan rasa kagum, ingat-hanya rasa kagum. Percakapan kita terjalin begitu saja, walaupun tak lama segalanya runtuh hanya dalam kurun waktu 10hari kita menjalani hubungan dan mempunyai status. Jujur, saat itu aku tak menyimpan perasaan apapun terhadapmu hanya sebatas kagum, itu saja. Namun, 10 hari rasanya cukup buatmu untuk berhenti dengan hubungan itu. aku tak mengerti, entah karena kesalahanku atau karena tindakanmu yang tiba-tiba berubah. Rasa kagum yang sulit dijelaskan, rasa penasaran yang ingin terus kuikuti. Mungkin salahku juga, akhirnya kamu menyadari bahwa segalanya tak lagi sama seperti pertemuan awal kita. Jadi, waktu turut andil, memang tak ada lagi yang sama seperti semula.

Sekarang, tak ada lagi kedekatan seperti dulu. Tak ada juga "haha atau hihi" favoritmu yang selalu menghiburku tiap malam, walaupun kau lebih cepat tidur dibanding aku. tapi aku mengerti, itu demi kesehatanmu juga. sekarang, kita berjalan-jalan sendiri-sendiri, bahkan saat bertemu seakan tak pernah terjadi apapun, seakan tak pernah terjadi kedekatan diantara kita, seakan hubungan singkat yang kita jalin tak pernah berarti untukmu. Aku sadar, semua memang sudah lewat, sudah tak perlu lagi untuk diungkit juga dikenang. Bukan keinginanku untuk menuntut, aku hanya ingin tahu, mengapa kau tiba-tiba berubah? Mengapa kedekatan kita-walaupun hanya kedekatan singkat tak bisa terulang lagi? apa aku tak sepantas yang kau harapkan? aaah, terlalu banyak pertanyaan untuk itu.

Diam-diam ketika aku duduk didepan ruang kelasku, dan kau juga sedang duduk didepan kelasmu, kadang aku menoleh kearahmu. Kamu yang (mungkin) berusahan menjahuiku atas alasan yang tidak benar-benas kutahu. Mungkin, sekali lagi mungkin, kamu mengira aku menginginkan sesuatu yang lebih, sesuatu yang tak hanya sekedar pelukan dalam bentuk pesan atau emoticon dalam bentuk tanda dan simbol. Tidak. Aku tidak akan menuntutmu sejauh itu; aku cukup paham, kamu bukan orang yang dengan mudah memberikan harapan untuk siapapun yang mengetuk pintu hatimu. Melalui tulisan ini, aku ingin memberitahukan padamu bahwa yang kita lewati dulu membuatku makin penasaran dan penasaran ini sudah timbul menjadi rasa sayang yang aku tak tahu darimana asalnya. Setiap orang yang bertanya padaku; kenapa kau sangat ingin tahu tentang dia dan sayang sekali terhadapnya? aku tak tahu harus menjawab apa, aku hanya bisa jawab dengan 1 kata hanya "Sayang". Semua orang pasti akan tertawa dengan jawabanku itu, aku tau. tapi hanya itu yang bisa ku katakan pada setiap doaku "Aku sangat menyayanginya Tuhan, Itu saja". Namun, kau memutuskan untuk mengakhiri dengan kata perpisahan.

Diantara rasa angkuh dan rasa gengsiku, diantara jarak bermeter-meter antara ruang kelasku dan ruang kelasmu, diantara perasaan yang belum sempat ku katakan kepadamu, dan perasaan yang belum sempat ku ketahui mulainya darimana; aku merindukan kamu yang dulu, itu saja:)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar